ADAKAH YANG SALAH DENGAN ETIKA KOMUNIKASI ANGGOTA DPR?

By: Gloria Wilhelmina Verdina

Proses komunikasi yang dilakukan di DPR memang kerap mengabaikan etika. Ketika rapat: baik dalam rapat Komisi,  Panja, Paripurna, para anggota dewan kerap menyampaikan pendapatnya dengan kata-kata serta bahasa yang tidak sopan. Perilaku para anggota dewan pun kerap tidak terkontrol. Mulai dari kasus korupsi hingga pembuatan video porno. Yang paling menyedot perhatian publik secara luas adalah korupsi pengadaan Al-Quran yang disangkakan Komisi Pemberantasan Korupsi pada Zulkarnaen Djabar, anggota komisi Agama dari fraksi partai Golkar7 dan beredarnya video porno yang dilakoni oleh anggota DPR yang masih dirahasiakan identitasnya.8

Sebagai perwakilan aspirasi rakyat dan dipilih oleh rakyat, tentunya anggota DPR memiliki tanggung jawab moral yang tinggi untuk dijaga dan dilaksanakan. Anggota DPR dipastikan sudah menempuh pendidikan yang tinggi dan juga sudah pasti bisa membedakan mana yang baik dan benar, dan mana yang salah.

Namun permasalahan yang mencuat ternyata bukan karena kesalahan berpikir atau kesalahan mendasari argumen (fallacy) yang berkaitan dengan tingginya jenjang pendidikan yang sudah dienyam dan pengalaman di bidangnya, tapi lebih kepada pelanggaran ethis dimana anggota sebagai bagian dari komunitas dan perwakilan orang banyak tidak mampu menyesuaikan dirinya dengan nilai-nilai yang ada. Seperti kejujuran, kepantasan bertutur kata, perilaku dan kesesuaian tindakan. Jika demikian adanya, setinggi apapun jenjang pendidikan yang sudah ditempuh, selama apapun pengalaman kerja di bidangnya, tidak mampu menjamin keluhuran budi yang masuk dalam kategori kualitas, bukan kuantitas.

Saya mencoba menganalisa penyebab yang selama ini membuat anggota DPR mengabaikan pentingnya penempatan diri. Saya mengaitkannya dengan salah satu pendekatan ethis yang diambil sebagai hipotesa awal. Prinsip pendekatan ethis yang dipilih oleh anggota DPR tersebut adalah Egoism Approaches atau Hedonistic Ethic. Menurut pendekatan ini, pelaku mempertimbangkan dan mengambil tindakan berdasarkan apa yang baik dan berkenan di dirinya sehingga selalu menempatkan kepentingan, kesenangan, kepuasan, kemauan dan keselamatan diri sendiri di atas kepentingan orang lain.9 Jadi tak heran bila dalam setiap tindakan, ucapan atau hasil kerjanya selalu menekankan pada kepentingan diri sendiri, bukan kepentingan orang lain. Hal ini berdampak fatal karena DPR merupakan kepanjangan tangan masyarakat luas. Sebuah negara yang terdiri dari jutaan orang bertumpu pada tiap individu di dalamnya. Batasan dari Egoism Approaches atau Hedonistic Ethic ini adalah apa yang dinilai baik bagi pelaku, belum tentu dinilai baik bagi orang lain. Apa yang membuat pelaku merasa nyaman dan puas, belum tentu dirasakan juga oleh pihak lain khususnya masyarakat.

Seharusnya mereka mengutamakan kepentingan orang banyak atau melakukan pendekatan ethis dari segi Common Good Approach sehingga rentetan kesalahan tidak akan terulang kembali dan Indonesia menjadi lebih baik dengan terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

Referensi:
7 http://www.tempo.co, Senin, 9 Juli 2012.
8 http://www.tribunnews.com, Selasa, 24 april 2012.
9 Simply Philosophy, BrendanWilson, Edinburgh University Press, 2002, World Philosophy- An Exploration in Words and Images, Vega 2002 Text Copyright Mel Thompson and the Named Authors.
Ethics in Human Communication, 5th edition, Richard L Johannesen.
Ethics, Edited by Peter Singer, Oxford University Press, 1994.

Advertisements