GOLPUT DALAM PEMILU

By: Gloria Wilhelmina Verdina

Adanya fakta yang cukup memprihatinkan tahun 2011 lalu yang menyatakan bahwa semakin tinggi penghasilan seseorang, semakin rendah tingkat kepercayaan terhadap pemerintah nasional dan juga ketertarikan mereka terhadap politik. Sedangkan di sisi lain, semakin rendah penghasilan seseorang, semakin tinggi tingkat kepercayaan kepada pemerintah nasional dan semakin tinggi ketertarikan mereka dalam politik.4 Padahal, semakin tinggi penghasilan seseorang, semakin mudah dan cepat informasi didapatkan dan membuat orang semakin kritis akan situasi yang terjadi. Penilaian-penilaian yang kritis dan masukan-masukan yang membangun tentunya sangat dibutuhkan di negara yang sedang berkembang. Namun kembali lagi, bagaimana bisa masukan-masukan dan penilaian-penilaian ini ada jika ketertarikan mereka pada politik sangat rendah.

Hasil riset, masih mengacu pada fakta yang sama, memperlihatkan bahwa 3,3% mahasiswa Muslim di universitas tidak memandang politik sebagai penting. Lebih dari 48,5% berpikir bahwa ketertarikan di bidang ini tidak semestinya dipaksakan kepada orang lain. Dari 53,3% responden yang menyatakan bahwa politik itu membosankan, sebagian berasal dari kategori ini. Saya mengambil fakta ini sebagai acuan karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama Muslim dan tunas-tunas bangsa berada pada angkatan mudanya.

Seperti yang telah dijelaskan di soal, istilah golput mulai populer sejak Pemilu 1971 yang dianggap sebagai simbol penolakan pemilu rezim Orde Baru karena dianggap sarat dengan manipulasi, kecurangan, intimidasi, penyelewengan, dan sebagainya. Golput pun dianggap sebagai batu sandungan bagi pemerintah kala itu. Perbedaannya adalah, di masa itu, akses informasi sangat terbatas karena sikap pemerintah yang otoriter sehingga kebebasan berpendapat menjadi ikut-ikutan terbatas dan juga terancam. Bukti nyata adalah saat pembredelan majalah Tempo, Detik, dan Editor pada 21 Juni 1994.5 Masyarakat rindu akan kebebasan berpendapat sampai akhirnya demo besar-besaran terjadi yang berujung pada lengsernya Soeharto.

Saat ini, akses informasi tak terbatas, online, offline, semua bisa diakses. Semua boleh berpendapat melalui blog pribadi, website, kolom opini di media massa, forum diskusi online dan offline, dsb. Masyarakat sudah mendapatkan kebebasannya, namun mengapa tingkat golput semakin tinggi? Golput juga mulai menyebar sampai pada tingkat daerah. Yang terbaru adalah tingginya angka golput pada pemilukada DKI Jakarta 2012. Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Prof Iberamsjah menilai hal tersebut disebabkan oleh krisis kepercayaan. Selama ini kebijakan pemerintah daerah dirasakan belum berpihak kepada masyarakat Jakarta sehingga timbulah ‘apatisme rakyat’ terhadap pemerintah. Warga berpendapat percuma memilih jika selama ini tak menguntungkan masyarakat luas.6 Barangkali alasan serupa juga terjadi di tingkat nasional. Jika sudah begini, pemerintah jelas harus berbenah diri. Masyarakat luas pun harus paham bahwa Golput tidak akan menyelesaikan masalah.

Referensi:
4 Lembaga Survey Indonesia, Pemuda Muslim Di Asia Tenggara – Survei di Indonesia dan Malaysia, Juni 2011.
5 http://www.tempo.co, Selasa 21 Juni 2011.
6 http://www.rimanews.com, 12 Juli 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s